
· Not A Muse
· Jakarta
Good Food Guide 2009-2010 /
Jakarta Good Food Guide 2008-2009 Revised 2nd edition
· Jakarta
Good Food Guide 2008-2009
· On God and Other Unfinished Things
· The
Anagram
· The
Diary of R.S.: Musings on Art
· Perang,
Langit dan Dua Perempuan
· Ellipsis
· Goenawan
Mohamad: Selected Poems
· Jakarta
Good Food Guide 2001
Jakarta Good Food Guide 2002
· Celebrating
Indonesia: Fifty Years with the Ford
Foundation 1953-2003
|

Perang, Langit dan Dua
Perempuan
March 2006
Nalar Publishing House (in collaboration with Freedom Institute)
Perbincangan
filosofis tiga perempuan-Weil, Bespaloff dan Laksmi- ihwal kekerasan,
perang, puisi dan hati. Esai puitis ini tak hanya mendalam, baris-baris
kalimatnya menggemakan makna berganda-ganda. Disini filsafat tak cuma
mengusik, ia juga menawan dan cantik.
- Bambang Sugiharto
Melalui esai yang reflektif
dan mengalir, pembaca
Perang, Langit dan Dua Perempuan menyusuri
berlapis-lapis tafsir: tafsir Homerus atas mitologi
Yunani yang dituangkan dalam Iliad, tafsir Simone Weil dan Rachel Bespaloff
atas Iliad, dan akhirnya tafsir Laksmi Pamuntjak atas ketiganya. Jika
Homerus merombak nilai-nilai zamannya melalui Iliad, epik ini pada gilirannya
menjadi suatu medan pemaknaan yang merefleksikan konteks dan kepentingan
para penafsirnya di zaman modern. Weil dan Bespaloff memaknai Iliad untuk
merespons kekerasan dalam Perang Dunia II dengan cara dan perspektif yang
berbeda, sedangkan Laksmi membandingkan kedua respons ini untuk mengingatkan
kita pada ‘kekerasan’ melalui cara berpikir fundamentalistik
yang mengancam dunia setelah peristiwa 9/11.
Dialog intertekstual ketiga perempuan ini –
yang
sangat peduli pada masalah zamannya -- sangat relevan dan penting bagi
intelektual pada masa ini dalam menyikapi kekerasan yang ada disekitar
kita. Sebagai pemberi kata terakhir, Laksmi menyarikan bagi kita pelajaran-pelajaran
berharga: . Apa konsekuensi sikap anti-kekerasan yang disuarakan oleh
Weil? Bagaimana jika ideologi anti kekerasan itu pada gilirannya mereproduksi
kekerasan itu sendiri, dengan meminggirkan aspek-aspek lain dalam teks,
dan menghadirkan kekerasan itu kembali secara lebih berjaya? Melalui tafsir
Bespaloff yang bertolak pada sisi kemanusiaan, Laksmi memilih alternatif
lain, yang lebih membuka ruang untuk memahami dan menghormati Yang Lain
dalam sosok musuh kita. Dengan penuh empati – namun tanpa kehilangan
daya kritis atas pemikiran kedua perempuan yang suaranya tenggelam dalam
akhir jaman – Laksmi melakukan suatu ‘intervensi’ budaya.
Suara-suara dalam Perang, Langit dan Dua Perempuan penting untuk kita
dengarkan, agar tragedi-tragedi kemanusiaan dalam sejarah manusia tidak
terulang kembali.
- Melani Budianta
Kata
kunci esai panjang yang stylish ini adalah ‘kekerasan’…
Diskusi ini menggoda kita untuk sekaligus mempertanyakan tempat kekerasan
dalam hati, pikiran, dan tindakan kita.
– Sapardi Djoko Damono
…lompatan
dahsyat dibuat dari Good Food Guide lewat puisi ke essay yang sarat dengan
erudisi.
– Toeti Heraty
|